Wisuda UNS Kembali Diwarnai dengan Lulusan Muda, Aktif, dan Berprestasi

UNS – pada Hari Sabtu lalu (25/2/2017) merupakan hari yang membahagiakan bagi 1689 mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS). Mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari program diploma hingga doktor, telah mengikuti prosesi wisuda UNS periode pertama tahun ini. Sebanyak 851 wisudawan mengikuti wisuda sesi pagi dan 839 lainnya pada sesi siang. Peraih predikat lulusan cumlaude atau dengan pujian mencapai 333 mahasiswa. Menariknya, pada periode kali ini ada salah satu mahasiswa yang sudah menyelesaikan pendidikan sarjananya di usia muda. Adalah Fitri Maulani, S. Ked., mahasiswi yang telah lulus program sarjana Pendidikan Kedokteran pada usia 19 tahun 7 bulan. Selain itu, seorang mahasiswa dinobatkan juga sebagai lulusan termuda untuk Program Pendidikan Dokter Spesialis – Yogi Affiandi. Yogi mengambil spesialisasi Sp.OG (Obstetri-Ginekologi) dan berhasil menamatkannya di usia 30 tahun. Dalam prosesi wisuda periode ini, wakil wisudawan yang terpilih untuk menyampaikan sambutan pada sesi pagi adalah Fadhila Balqis Nurfitria, S.Ked. Balqis memulai sambutannya dengan berterimakasih kepada seluruh jajaran pengajar terutama dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang memampukan dirinya dan seluruh wisudawan lainnya untuk belajar, berkembang, berkarya, mengambil keputusan, mengambil kesempatan, gagal, bangkit, berhasil, dan segala hal yang telah dilalui. “Kesuksesan itu dinyatakan oleh dua hal, ucapan dan perbuatan. Kata terima kasih telah disampaikan, sekarang saatnya kita benar-benar membuktikan rasa syukur melalui perbuatan. Yang bisa kita lakukan adalah memaksimalkan kebermanfaatan yang telah kita dapatkan pada kampus ini. Mari harumkan almamater kita, dengan karya-karya kita yang aplikatif dan solutif, untuk menjawab permasalahan yang ada di lingkungan masyarakat, bangsa, dan negara,” terangnya. Ravik Karsidi, rektor UNS, pun memberikan amanat sebelum doa penutup dibacakan. Ravik mengemukakan bahwa periode wisuda ini merupakan momentum penting bagi semua lulusan karena tidak semua orang berkesempatan untuk menyelesaikan studinya. Gelar kesarjaan atau ahli madya menjadi sebuah identitas. Semakin para lulusan menyadari eksistensi ini, semakin besar peluang keberhasilan yang akan menjadi tujuan utama. Menurut Ravik, keberhasilan tidak cukup dengan modal identitas, melainkan personalitas. Hal ini meliputi individu yang berkarakter, memiliki jati diri serta bertanggungjawab atas keputusan yang dibuat sehingga dapat menjadi sarjana yang memiliki karakter yang mencakup  integritas dan kejujuran. “Saatnya kalian mengamalkan ilmu yang telah didapat. Saatnya membuktikan kompetensi Anda. Bila ada yang mengatakan sarjana kok ngono, doktor kok ngono, berarti kompetensi Anda belum sejajar dengan gelar yang Anda peroleh,” pesan Ravik. (Ossama Ruzicka/Eln)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *